Bahagia Itu Walaupun, Bukan Kalau

Aku tergelitik untuk menuliskan pengalaman saat membaca informasi dari Satu Persen. Yang diminta adalah membagikan tips untuk berbahagia dengan caraku sendiri.

Bahagia? Aku termenung membacanya. Dalam kondisi dunia kaya gini, pandemi, banyak bisnis mati suri dan orang kehilangan pekerjaan, masih pantaskah mengejar rasa bahagia?

Untungnya, aku segera sadar. Kebahagiaan adalah hak dasar kehidupan, bukan sekadar barang mewah yang bisa kauirikan jika orang lain mendapatkannya sedangkan kamu tidak.

Kebahagiaan bersifat internal dan relatif. Kamu nggak akan bisa bahagia jika menunggu dan menyalahkan keadaan yang nggak support, atau malah merasa dengki terhadap kondisi. Kamu  mesti meraihnya dengan melihat ke dalam. Bahagia itu “walaupun”, bukan “kalau”. Maksudnya, jika kamu menangguhkan bahagiamu karena keadaan-keadaan di luar kendalimu, kaya pandemi ini misalnya, ya kamu nggak akan bahagia-bahagia seumur hidup, brosis. Masalah pasti selalu ada. Wong namanya hidup. Tapi, kalau kamu berusaha membahagiakan dirimu secara aktif walaupun ada kondisi-kondisi itu, kamu akan merasakan kebahagiaan yang membantumu menjalani hidup, lho.


Photo by Dawid Zawiła on Unsplash


Bahagia itu “walaupun”, bukan kalau.

Sebagai seorang penulis, introvert, dan sering terintimidasi dengan public gathering, aku memiliki cara untuk bahagia yang unik. Btw, menjadi seorang penulis adalah IKIGAI-ku, alasanku untuk hidup dan panggilan hidupku. Well, pekerjaanku di kantor (yang sekarang dikerjakan secara WFH) adalah pekerjaan yang seru dan unik juga, sih, dan aku selalu bersyukur karenanya. Tetapi, ikigai untukku adalah menulis.

Ikigai-ku adalah menulis.

Photo by Andrew Neel on Unsplash

Aku sulit bercerita atau membuka diri pada orang lain. Yang namanya kesulitan atau masalah pasti aku pikir-pikir dulu sebelum membaginya pada orang lain. Mungkin orang bisa sedikit menilik kehidupan pribadiku dengan cara menebak-nebak berdasarkan foto-foto atau post yang ku-share di Instagram. Tetapi, kebenarannya sendiri tidak banyak yang tahu.

Dengan kepribadianku yang begitu, caraku merasakan dan mempertahankan kebahagiaan  tentu saja berbeda dengan orang lain. Pernah kubaca tentang beberapa hal yang membantu kita untuk lebih menerima kenyataan dan menjadi sumber kebahagiaan. 

Kalau kucampur apa yang kupelajari dengan pengalamanku, ada tiga hal yang mau kubagikan dengan kalian.

Yang pertama,

Kesempatan untuk berkreasi

Aku akan menjelaskan ini dalam konteks WFH dan PSBB. Jadi, dari post yang berlintasan di media sosial, kebanyakan keluhannya adalah pembatasan untuk berekspresi. Memang untuk seorang ekstrovert, keterbatasan untuk keluar rumah dan bersosialisasi terasa mengungkung dan memenjara.

Seorang introvert lebih toleran terhadap keadaan ini, apalagi jika ini menuntutnya harus tinggal sendiri dalam isolasi, atau setidaknya dengan individu lain yang by default sudah ada di rumah, misalnya keluarga inti atau pasangan.

Tetapi, jangan lengah pula. Seorang introvert mungkin menemukan kepuasan dan alasan hidupnya dari hal-hal yang tidak bisa dilakukan saat PSBB ini.

Sebagai penulis, aku bersyukur nggak mengalami kendala berarti akibat pekerjaan sampinganku yaitu menulis, karena tetap dapat dilakukan secara online selama ada suasana mendukung, laptop, dan internet.

Walaupun begitu, jangan dilupakan bahwa menulis adalah olah rasa. Aktivitas ini memerlukan input dari sekitar. Tidak ada aktivitas menulis yang tahu-tahu inspirasi datang sendiri, karena cerita kita berasal dari hasil kita mengobrol, mengamati, dan menganalisis lingkungan. Kadang inspirasiku muncul saat sedang mencengkeram gantungan di bus, terhimpit oleng kian kemari setiap malam sepulang kerja. Kadang inspirasiku muncul saat di lift menuju lantai kantorku. Kadang sesimpel melihat kepadatan lalu lintas saat jam pulang.

Kreativitas punya urat nadinya sendiri, yaitu kemanusiaan. Makanya, aku kering saat WFH ini. Semua komunikasi dan kontak ke dunia luar sangat minim. Mesti lewat internet atau hanya ke para petugas delivery.

Dalam keheningan, sulit sekali rasanya menetaskan ide-ide baru. Rupanya ini bertolak belakang dengan apa yang kupahami sebagai kondisi ideal seorang penulis:

Keheningan, ketenangan, hanya diri kita yang dibanjiri ribuan kata.

Saat ini, agar tetap dapat berbahagia, aku memaksakan dan menargetkan diri untuk tetap menulis setiap hari.

Caranya?

Jurnal, buku harian mimpi, atau mengikuti 30-days writing challenge. Syukurlah ada beberapa lomba puisi dan cerpen untuk diikuti juga.

Private collection. Jurnalku.

Yang penting jangan berhenti berkreasi. Menulis adalah napasku, nyawaku. Aku tidak ingin kehilangan aktivitas sarat makna ini.

Yang kedua,

Kesempatan untuk mengalami

Generasiku, milenial alias Gen Y, adalah generasi yang menghamba banget terhadap pengalaman. Sampai-sampai ada bahan becandaan bahwa lebih baik nggak punya rumah (dengan solusinya ngontrak atau tinggal di kost) daripada nggak bisa jalan-jalan ke tempat-tempat eksotis di dalam dan luar negeri. Generasi yang duluan lahir mengecap ini pemborosan dan kegagalan mengenali prioritas. Maklum, zaman dahulu yang namanya mengamankan aset itu nomor satu (atau jangan-jangan karena belum ada Instagram maka nggak ada virus wanderlust?). Tanah, rumah, mobil, semua menjadi status simbol yang menunjukkan kemapanan.

Bahkan, milenial dicela sebagai generasi yang melakukan ini-itu demi estetika konten media sosial.

Well, menurutku nggak salah, sih. Kadang aku pun tergoda untuk membeli ini itu, menulis ini itu lalu dipost dan kepuasannya luar biasa. Aku merasa sudah menginspirasi orang lain.

Saking kecanduan dopaminnya terhadap pengalaman baru, generasi milenial (setidaknya yang di lingkungan pertemananku dan beberapa survey) menjadikan bergonta-ganti pekerjaan sebagai salah satu metode mencarinya. Bukan sekali dua kali, kan, orang komen bahwa anak zaman sekarang susah loyal ke perusahaan?

Asal jangan gagal loyal ke pasangan aja, ya, hehe.

Nah, dalam situasi ini di mana kita nggak mungkin keluar rumah, foto-foto, haha hihi, buang duit (seriously, banyak kegiatan ekonomi kita ditunjang oleh konsumsi, lho, jadi selama anggaran masuk akal dan tidak mengganggu pengeluaran wajib dan tabungan, why not?), bagaimana caraku berbahagia?

Kembali lagi ke profesiku sebagai penulis (after-hour, hehe). Ada kan yang bisa dialami dan di-share di konten tanpa harus keluar rumah. Misalnya, buku yang kubaca. Puisi yang kutulis. Video aku yang membacakan surat buat LettersLive.

Dalam keadaan hari-hari biasa, belum tentu aku selesai membaca berbagai buku karena pasti aku lebih memilih jalan-jalan. Oh ya, kalau kamu nanya apakah aku streaming video atau nggak, aku nggak nonton streaming karena aku nggak punya broadband, harus pakai kuota, yang mana boros dong kalau buat nonton video.

Private collection. Sahabat-sahabatku di rumah.

Buku jadi solusi hiburan yang masuk akal dan relatif lebih murah. Dengan cara ini, aku sudah ikut “merasakan” tanpa harus keluar rumah. 

Bonus point:

Buku membawa imajinasimu melayang jauh dengan racikan kata-kata ajaib dari penulisnya. Tanpa harus keluar rumah, kamu sudah ikut berpetualang menyelami realita baru bersama tokoh-tokohnya.

Yang ketiga,

Jangan lupa bersyukur

Pasti tahu, dong, dari post teman-teman dan mungkin kamu yang sendiri yang berseliweran di medsos bahwa kalian bosan! Bosan, kan, di rumah terus?

Sampai kita harus menjaga kewarasan selama WFH dan tetap produktif. Mengeluh itu boleh, kok, karena kita manusia.

Tapi tapi tapi, kalian yang WFH sadar nggak, ada lho banyaaaaak banget orang di dunia ini yang nggak bisa bekerja dari rumah bermodalkan jaringan internet.

Banyak banget. Karena memang:

Pekerjaan mereka nggak bisa dikerjakan secara remote

Contohnya, tenaga konstruksi. Beberapa hari lalu aku memanggil tukang ke rumah karena plafon saya sudah berjamur dan tinggal dikit lagi bahaya roboh. Aku menunda-nunda karena ingin social distancing yang bener, tetapi kan bahaya juga kalau jatuh, soalnya berjamur akibat bocor parah selama musim hujan.

Nah, mau nggak mau para pekerja konstruksi itu harus datang ke rumahku, kan, karena nggak mungkin mereka cuma klak-klik laptop dari rumah untuk membetulkan plafon.

Mereka essential workers.

Contohnya: distributor bahan-bahan pokok. Ya kali mereka bekerja dari rumah, siapa yang memastikan kelancaran pasokan sembako yang kalian nikmati? Siapa yang memanen tanaman dan memotong hewan ternak untuk kita makan?

Kita harus menghargai mereka karena tanpa essential workers, orang-orang yang WFH nggak bisa WFH.

Mereka tenaga medis.

Mereka terpapar dengan risiko tinggi COVID-19 setiap harinya, tetapi mereka harus bekerja. Ada yang sampai ditolak pulang oleh lingkungannya, dan bahkan sampai ditolak penguburannya, betapa kejam yah masyarakat. Nah pengorbanan para tenaga medis ini nggak bisa dilakukan dari rumah, so mereka harus selalu berada di fasilitas kesehatan.

Mereka simply nggak ada alternatif pekerjaan lain. Contohnya, teman-teman yang bekerja di bisnis angkutan umum, sopir truk (bisa dikategorikan essential workers juga). PSBB membuat orang-orang ini kehilangan pencaharian, tetapi mungkin di daerah yang belum PSBB mereka masih bisa mencari nafkah. Intinya, WFH bukan solusi mereka.

Mereka kehilangan pekerjaan.

This. Ini sedih banget karena secara personal aku pernah mengalaminya tahun 2015 akibat harga minyak dunia turun. Aku di-layoff dan menganggur cukup lama karena nggak punya skill untuk bekerja di bidang lain. Barusan aku cek harga minyak dunia udah negatif lho menurut WTI. Katanya ini poin terendah dalam 21 tahun, bayangkan. Dan karena COVID-19 ini, nggak cuma pekerja minyak yang terancam, lho. Bisnis yang berkaitan dengan travel dan aneka bidang yang ditinggalkan orang akibat self-quarantine ini udah teriak-teriak. Kita bisa baca di berita dalam dan luar negeri bahwa banyak karyawan airlines dirumahkan, travel agent gulung tikar, dan seterusnya.

Nggak ada yang luput dari dampak wabah ini.

So, memang kecemasanmu valid. Tetapi melihatnya secara relatif memang perlu, biar kita nggak pakai kacamata kuda dan menganggap diri kita yang paling kesusahan.

Jangan lupa bersyukur.
Photo by Courtney Hedger on Unsplash

Ada anekdot menarik tentang problem. Kalau kita meletakkan problem kita di tanah lapang dan membuat tumpukan dari kumpulan problem itu, lalu melihat problem orang lain, maka kita nggak akan lagi merasa kurang dan kurang. Percayalah, yang bisa menyelesaikan problem kita hanya kita sendiri, kok. Ada alasannya kenapa demikian, karena kamu nggak ada duanya di dunia ini. You do you, there’s no one else could be you. Maka, yang bisa menghadapinya ya cuma kamu.

Begitu sih cara-caraku menghadapi tantangan pandemi ini, WFH, stres di rumah, dan langkanya input kreativitas.

Kalau kamu butuh bantuan mentoring online, tentu saja bisa minta bantuannya Satu Persen.

Hope you enjoy this rollercoaster ride indoor and stay safe!

Cheers,

Sekar

#SatuPersenBlogCompetition

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *