Cerpen tentang Vipi

Cerpen ini saya tulis pada akhir Desember 2018, hampir setahun lalu. Beberapa minggu lalu, saya sempat membacanya kembali saat sedang menelisik dokumen-dokumen usang yang terkubur di hard drive, siapa tahu ada yang bisa didaur ulang. Dan saya temukan kembali cerpen ini. Karena Vipi baru saja dipanggil Bapa di Surga, saya memutuskan untuk mengunggahnya sebagai memorial.

Dia berbaring di dekat keset kuning-hijau. Kaki kiri depannya tertekuk di bawah rahangnya. Dada dan perutnya naik turun seirama nafas. Satu kesetku yang lain, keset bermotif batu abu dan putih, tergeletak miring di samping keset kuning-hijau. Vipi sukar ditebak. Kadang ia menyukai berbaring di keset kuning-hijau, hingga kakinya terjerat benang-benang yang lepas dari keset saat bangun. Mengapa kakinya terjerat? Karena kukunya sangat panjang. Kadang ia lebih suka tidur semalaman di keset bermotif batu, hingga paginya meninggalkan noda besar kecoklatan di keset batu abu putih. Ya, badannya meninggalkan noda kotor, padahal ia jarang bermain di luar rumah. Mungkin karena lantai rumah kami kotor akibat terlalu sering diinjak dengan sandal.

Mengenai kuku-kukunya yang panjang, ah, benar. Itu karena sudah lama kami tidak memotongnya. Gunting kuku khususnya pernah cukup lama tersimpan di salah satu laci di rumah ini; jarang digunakan akibat sulit memotong kukunya. Akhirnya, kami mendiamkan kuku Vipi. Hingga pada suatu hari, salah satu anggota keluarga membawa gunting kukunya pergi. Tidak masalah, karena peliharaannya lebih membutuhkannya. Tanpa gunting kuku, semakin panjanglah kuku Vipi. Mungkin begitu hakikat objek. Saat gunting kukunya ada, memotong kuku Vipi tidak pernah menjadi prioritas. Saat gunting kukunya tidak ada, kami sedih melihatnya.

Oh ya, mengapa kukunya harus dipotong? Apakah Vipi tidak dapat memendekkannya sendiri? Tidak, tidak dapat. Vipi sudah tua, sudah dua belas tahun. Dia tidak selincah dulu. Aktivitasnya lebih banyak tidur di dekat keset di kamarku, makan sehari dua kali ketika dipanggil, dan buang air di halaman belakang. Dia tidak suka lagi menggaruk-garuk tanah yang secara alami dapat memendekkan kukunya. Kadang, bahkan dia menjerit saat kukunya terkait satu sama lain sehingga ia tidak dapat berjalan.

Beberapa bulan lalu, aku membawanya ke dokter hewan untuk memeriksakan batuknya yang tak kunjung sembuh. Kata dokter, kemungkinan batuknya disebabkan oleh bakteri dalam mulut atau karena kondisi jantungnya. Ia diberi obat, dan aku berusaha agar dia menghabiskannya. Obat tersebut dicampurkan dengan makanannya. Pada saat kunjungan ke dokter itulah potong kuku Vipi dilakukan. Sempat keluar darah dari salah satu kukunya. Pak dokter memberikan permanganat untuk menghentikan pendarahannya. Saat itulah aku baru ingat bahwa KMnO4 digunakan untuk menghentikan luka, pelajaran kimia dulu.

Di usianya sekarang, aku memberikan makanan yang berbeda untuk Vipi. Jika dulu Oma memberikan nasi dan rebusan tulang dan daging ayam, kadang kepala ayam, saat ini aku merebus hati ayam untuk diberikan pada Vipi. Kupilih hati ayam karena ia lebih lunak dibandingkan potongan-potongan bertulang, sehingga aman bagi gigi dan kerongkongannya. Hati ayam juga lebih mudah dihancurkan untuk dicampur bersama nasi agar dia menghabiskan nasinya. Tadi sore, ia makan dengan lahap.

Vipi berbau khas. Berbeda dengan bau Bonny. Atau bau Jojo. Sudah beberapa minggu aku tidak memandikannya. Lagipula, aku takut dengan ketahanan tubuhnya yang sekarang nanti ia malah sakit setelah kumandikan. Mungkin akhir pekan mendatang aku akan memandikannya. Telah kulihat beberapa gumpalan hitam bukan kutu di rambut-rambutnya tadi. Gumpalan-gumpalannya mengumpul di area rambut hitam, dan hanya sedikit di area rambut putih. Entah apakah itu.

Barusan ada yang datang. Vipi menjenguk sejenak ke luar pintu, lalu masuk kembali. Matanya sudah tidak terlampau awas. Tapi jangan salah, dia berkali-kali berhasil membunuh tikus yang nekad masuk ke rumah kami. Giginya masih mampu mencengkeram leher atau meremukkan kepala si tikus nakal. Sesudahnya, tinggal kubuang bangkai tikusnya ke plastik sampah.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *