3 Skill PM yang Bisa Diterapkan dalam Menulis Fiksi

Menulis itu mirip dengan product management. Sama-sama bermula dari kondisi yang tidak ideal, dilanjutkan dengan plot atau storytelling perjalanan user menggunakan aplikasi, dan bermuara pada peluncuran buku atau produk sebagai hasil akhir.

Hi semuanya,

Setelah berhari-hari nulis-nulis-nulis-ngedit di bulan Juli, pada akhirnya saya memberanikan diri untuk men-submit naskah novel ke penerbit. Engga jadi Sirene Ketiga judulnya, tetapi 3.67.

Kenapa 3.67? Well, spoiler dong, hehehe. Nanti yah, kalau udah terbit, silakan dibaca kenapa judulnya 3.67.

Apa peran Sirene Ketiga untuk naskah 3.67? (Kok malah jadi kaya Q&A session). Ngga ada sih, Sirene Ketiga adalah bagian proses itu sendiri yang akhirnya sampai membuahkan 3.67.

Yang mau aku ceritakan di post ini adalah bagaimana pekerjaanku sehari-hari membantu kelancaran penulisan 3.67. Untuk teman-teman yang belum tahu, keseharianku adalah sebagai product manager di salah satu e-commerce company di Jakarta. Singkatnya, seperti yang pernah saya post di sini, Product Manager (PM) bertugas mendefinisikan strategi sebuah produk (feature) mulai dari masalah user apa yang ingin diselesaikan melalui fitur yang akan dirilis sampai detail teknis peluncuran produknya. Kalau sulit membayangkannya, imajinasikan sebuah fitur bernama Google Lens QR code reader, yang bisa mendeteksi QR code dan membawa user ke link yang dimuat di QR code. Dengan cara ini, kamu nggak perlu meng-install QR code reader terpisah. Nah, PM dari Google Lens QR code reader ini bertugas mendetailkan requirement untuk membuat fitur tersebut, sampai ke tipe Android OS apa yang akan diujicobakan, bagaimana integrasi dengan Androidnya, dan seterusnya.

Lanjut ke apa hubungannya product management dengan menulis. Kalau kamu berpikir bahwa menulis itu sulit karena pekerjaan sehari-hari kita nggak mendukung, wah kamu rugi besar. Faktanya, tidak semua penulis itu penulis full-time. Sangat banyak yang bekerja harian demi kelangsungan hidup mereka. Contohnya, untuk menafkahi keluarga, membayar pajak, tagihan, etc etc yang belum ter-cover dari honor menulis. Contoh lain, seniman teater, tari, atau musik, yang karena belum super terkenal, jadi harus bekerja 9-6 sehari-hari untuk mencukupi kebutuhannya. Jadi, menulis sambil tetap memprioritaskan pekerjaan utamanya itu hal yang sangat normal. Justru jangan sampai kesibukan yang normal itu menjadi alasan kamu untuk enggak menulis.

Nah, sama seperti banyak keahlian lain di dunia ini, satu dan lain hal bisa saling beririsan dan melengkapi. Begitu pula pekerjaan sehari-hari kamu. Misalkan kamu seorang dokter lalu menulis fiksi detektif yang dibantu kedokteran forensik, itu berarti kamu sudah memasukkan pengetahuan yang kamu miliki di pekerjaanmu untuk memperkaya tulisanmu. Begitu pula dengan profesiku sebagai seorang PM, banyak skill yang bisa aku gunakan, yang antara lain sudah aku ceritakan di sini.

Menulis itu mirip dengan product management. Sama-sama bermula dari kondisi yang tidak ideal, dilanjutkan dengan plot atau storytelling perjalanan user menggunakan aplikasi, dan bermuara pada peluncuran buku atau produk sebagai hasil akhir. Di product, yang kamu ship (luncurkan) adalah aplikasi atau sebuah fitur dari aplikasi. Sementara dalam menulis, yang kamu ship adalah buku. Aplikasi dan buku sama-sama menjadi produk akhir yang akan digunakan atau dibaca penggunamu.

Skill yang aku pelajari dalam product management yang bisa aku terapkan dalam menulis sebuah cerita adalah:

1. Mengidentifikasi pain point

Kalau di PM, ide tentang sebuah produk bermula dari pain point, atau kesulitan atau masalah yang dialami pengguna. Nah, tahunya pain point itu dari mana, tentu saja dari user research. Contohnya, awal mulanya sebuah aplikasi transport online yang aku pernah kerja di sono — makanya tahu betul apa pain point-nya karena denger langsung dari CEO-nya nih — adalah karena ingin memberdayakan supir-supir taksi yang kurang produktif karena masih menunggu penumpang di pool.

Atau, kalau dari segi olahraga misalnya Yoga app yang pernah saya ulas di sini, goal-nya adalah membentuk kebiasaan user untuk rajin beryoga melalui yoga challenge.

Dalam menulis fiksi, kamu juga bermula dari suatu ide, kan? Nah apa sih yang ingin kamu capai efeknya kepada pembaca setelah membaca ceritamu? Aku menyebutnya cerita, karena menurutku ‘menulis buku’ itu lebih mengintimidasi dibandingkan ‘menulis cerita’. Menulis cerita terdengar lebih mengasyikkan dibandingkan menulis sebuah buku yang sudah terdengar berat dan melelahkan.

Sama seperti user research, kamu juga bisa melakukan research dulu sebelum menuliskan ceritamu. Misalnya, dalam 3.67 saya menceritakan perjuangan seorang pemilik coffee shop untuk menyelamatkan bisnisnya dari serangan pihak-pihak lain. Tentunya saya harus menyempatkan diri untuk meriset bagaimana menjalankan bisnis kopi. Karena saya pernah membuka rumah makan Manado selama 3 bulan, ya lumayan paham lah suka dukanya (karena banyakan duka dan nggak sabar, makanya saya berhenti cepat-cepat hahaha). Plus dengar dari pengalaman orang-orang lain di lingkup keluarga dan pertemanan yang punya usaha kuliner, saya jadi cukup banyak gambaran tentang bisnis kuliner itu sendiri. Karena saya penggemar kopi, riset khusus tentang kopinya jadi nggak kerasa sedang riset karena jadi bisa mencoba berbagai biji kopi lokal dan teknik brewing-nya.

Itulah pentingnya kamu memilih topik yang kamu sukai. Nggak akan terasa sedang meriset dan menulis.

2. Menyusun user journey

User journey dalam product management berarti alur yang dijalani user saat menggunakan aplikasimu. Contohnya, dalam menulis email, seorang user harus:

  1. membuka aplikasi email
  2. membuka email baru
  3. mengetik isi email
  4. menambahkan penerima email
  5. mengisi judul email
  6. menekan tombol Kirim

Di fiksi, yang senada dengan itu adalah plot. Plot adalah jalinan isi cerita yang merangkai adegan mulai dari awal sampai akhir. Plot ini menjadi kekuatan utama ceritamu, karena tanpa plot yang kuat, pembaca akan merasa tersesat di jalan. Jika misalnya di aplikasi emailmu user kesulitan menemukan tombol Kirim karena peletakannya tidak standar, prosesnya membuat email baru tersendat, kan? Begitu pula dengan plot fiksi, harus dibuat enak untuk diikuti.

Aku pun masih belajar masalah plotting ini, karena beda penulis beda gaya membuat plot. Kuncinya ya banyak-banyak membaca, terlebih di genre atau gaya kepenulisan yang kamu suka, jadi lama-lama kamu akan bisa meniru atau menyesuaikan dengan gayamu sendiri.

Ada panduan yang cukup populer di dunia product managementyaitu Pixar Storytelling. Selain itu, yang saya gunakan selama menulis 3.67 adalah story outline, contohnya seperti di web ini.

Selain itu, dalam menyusun user journey, seorang PM dituntut untuk memperhatikan detail dan edge case. Apa tuh edge case? Edge case adalah bagian user journey yang nggak termasuk journey utamanya. Misalnya, jika kita merancang user akan klik B setelah A, bagaimana jika user klik C dulu sebelum B, bagaimana meng-handle-nya?

Di plot, ini serupa dengan masalah plothole. Bisa jadi karena terlalu memaksakan plot utama, kita jadi menafikan banyak hal yang malah jadi bikin cerita kita terlihat nggak rapi. Malah nanti pembaca bertanya-tanya, kenapa yang dipilih solusi X padahal Y lebih masuk akal, atau kenapa si P bersikap demikian yang nggak sesuai karakternya ke Q.

3. Strategi peluncuran produk

Sama seperti menyusun strategi untuk meluncurkan aplikasimu, kamu harus merencanakan promosi ceritamu.

Untuk aplikasi, apalagi aplikasi baru, nggak bisa dong asal rollout ditaruh di Playstore atau Appstore. Harus ada komunikasi dan marketing yang bisa membantu promosi aplikasimu ke target user. Kalau dari product management, ada yang namanya A/B testing, yaitu kamu menguji dua tampilan UI yang berbeda untuk mengetahui mana yang mendapatkan respons lebih baik dari user. Ada lagi staged rollout, jadi versi barunya di-launch secara bertahap, enggak ke 100% user base, untuk meminimalisir risiko. Tidak cuma masalah teknikal, kita juga harus memikirkan training untuk user internal, misalnya jika produknya adalah fitur rekonsiliasi penjualan bulanan. Untuk pengguna umum, jangan lupakan FAQ page. Lebih bagus lagi ada video di medsos tentang penggunaan fitur baru, jadi user makin paham.

Untuk komunikasi dan marketing cerita fiksi, tentu saja strateginya berkisar seputar channel marketing-nya apa saja, bagaimana komunikasi di media sosial, siapa yang harus dihubungi untuk membuat event peluncuran buku, etc. Bagian ini aku lagi belajar banget, maklumlah 3.67 adalah novel pertama yang akan diterbitkan. Sebelum-sebelumnya aku publish di Wattpad, cuma buat mengetahui reaksi pembaca (nah ini bagian dari user research tadi). Doakan ya semoga 3.67 lancar prosesnya sampai menghuni rak buku dan menghantui pikiran kalian.

Gimana, cukup jelas atau cukup nggak jelas, nih? Untuk yang tertarik berdiskusi lebih lanjut, boleh banget drop komen di post ini.

. . .

Karena 3.67 sedang dalam tahap editing di penerbit, berarti makin deket dong tanggal rilisnya. Tinggalkan emailmu di Contact Me page untuk mendapatkan info eksklusif, bonus excerpt, atau diskon early bird ya.

Until next time,

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *