Dan Kita Berteriak: Salibkanlah Dia

[catatan refleksi seorang awam di hari Jumat Agung]

Sebelum tablo visualisasi dimulai, komentator menyampaikan agar umat mematikan handphone dan semua alat komunikasi lainnya. Umat dilarang mengambil gambar atau video ketika visualisasi berlangsung.

Ini mungkin menamparmu
Jika engkau lebih terbiasa mengabdikan diri demi konten
Bukan demi kebenaran
Waktumu habis untuk mengabadikan momen
Padahal peristiwa yang sebenarnya terjadi di depan matamu

Jika penyaliban terjadi sekarang, tahun ini, alih-alih 2000 tahun silam
Apakah engkau yakin akan mengikuti Yesus dalam Via Dolorosa, 
alih-alih merekam peristiwanya dengan ponsel pintarmu?
Buru-buru engkau mengunggah kontenmu,
lupa bahwa yang lebih nyata adalah yang sedang disiksa di hadapanmu

Ketika Yesus dihadapkan kepada Pilatus, lalu dikirim ke Herodes, lalu ke Pilatus lagi.

Mungkinkah kita Pilatus-Pilatus modern,
yang memiliki kekuatan dan sarana untuk mengambil keputusan
namun tidak menggunakannya karena takut
Pilatus diberikan kesempatan berkali-kali,
melemparkan pertanyaan berkali-kali 
Namun, bukan hal yang benar yang dilakukannya
Melainkan, ia mencuci tangan atas darah yang tak bersalah

“Aku harus menyalibkan Rajamu?” tanyanya
Seolah dengan demikian ia dapat mengubah pikiran orang banyak
Tidak
Yang banyak adalah yang benar, menurutnya
Memusuhi Kaisar bukanlah posisi bagus untuk pengaruhnya, pikirnya
“Aku tidak bersalah atas darah orang ini”, ucapnya sambil mencuci tangannya
Berapa kali kita mencuci tangan atas darah orang yang tak bersalah,
padahal kita mampu melakukan sesuatu?

Atau, kita sebagai Herodes modern,
sibuk mencari tanda
Dan ketika tanda itu tiada,
mencibir Allah

Ketika Petrus mengingkari Yesus sebanyak tiga kali sebelum ayam berkokok.

Ini menyentuhmu jika engkau pernah dikhianati sahabat
Orang terkasih yang semestinya mendampingimu di saat-saat terberat
Atau, engkaukah Petrus itu?
Ketakutan telah membuatmu mengingkari-Nya

Ketika bangsa-Nya sendiri berteriak-teriak menuntut hukuman mati, sementara sebelumnya menyebut-Nya sebagai Putera Daud.

Kitalah itu
Kita yang berteriak-teriak “Salibkanlah Dia!”
Kita yang memilih membebaskan seorang pembunuh dan pemberontak sebagai ganti nyawa-Nya
Setelah sebelumnya baju kita yang dihamparkan untuk menyambut-Nya
“Hosana, Putera Daud!”
berubah menjadi
“Salibkanlah Dia!”
Kini kau berpikir mengapa aku takut massa?
Karena Tuhan sendiri telah mengalaminya

Saat Jumat Agung diidentikkan dengan hujan sekitar jam tiga petang.

Karena langit menangis
Manusia yang dulu ditelannya dalam hujan dan banjir besar
Kembali mengoyakkan hatinya

Seorang anak kecil di gerejaku, saat tablo dimainkan tadi pagi pada hari Jumat Agung, ketika Yesus diseret dan dicambuki sepanjang perjalanan, tahu-tahu berteriak:

“Pelan-pelan!”

Mungkin dia polos. Namun anak kecillah yang hatinya paling dekat dengan Yesus. Mereka mungkin kurang bisa membedakan mana visualisasi mana sungguhan.

Namun, di dunia penuh tipu daya ini
Yang betulan bisa terkesan pura-pura
Yang pura-pura bisa jadi sungguhan

Saat aku mendapat kehormatan untuk menarasikan Kisah Sengsara pada misa Minggu Palma, sepanjang latihan kami berusaha mengompakkan diri dalam mengucapkan “Salibkanlah, salibkanlah Dia!”

Walaupun hanya latihan
Walaupun sedang dalam konteks membaca
Itu adalah cerminan berkali-kali pula aku berteriak untuk menyalibkan Yesus
Dengan pilihanku

Saat narator visualisasi menyebutkan tentang membenarkan kebiasaan, bukan membiasakan kebenaran.

Kita memilih larut dalam yang banyak itu
Memilih yang salah walaupun keliru
Karena yang banyak pasti yang benar, katamu
Padahal yang benar saja kausalibkan

Setiap tahun, kita mengenang peristiwa ini. Dengan musik, dengan film, dengan drama visualisasi. Setiap kita memasuki suatu gereja, kita melihat-Nya tergantung di kayu salib. Lalu, selepas perayaan dan pengenangan itu, kita kembali ke dalam hidup masing-masing. Kita melepaskan topeng manusia beriman, dan kembali menjadi Pilatus, Herodes, Petrus yang sedang ingkar, atau rakyat yang berteriak-teriak.

Kita selalu lupa
Ia ditikam karena kedurhakaan kita

Jakarta, 19 April 2019

TSL

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *